Kadang-kadang dosa terlihat tidak membahayakan. Kita merasa
tidak terganggu dan dapat mengendalikannya. Bahkan kita
merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya. Tetapi
pada kenyataanya, apabila dosa itu telah mulai melilit
hidup kita, sukar dapat melepaskan diri lagi daripadanya.
Jalan keberhasilan ini adalah milik anda. Pada saat anda
menyadari bahwa anda bertanggungjawab penuh atas segala
sesuatunya, dan anda tak menemukan alasan apa pun untuk
menyalahkan orang lain, di saat itulah anda menemukan jalan
anda sendiri. Di saat itulah anda menyadari kebebasan dan
hilangnya ketakutan. Hanya anda yang mampu memikul hidup
anda, bukan orang lain.
Bila anda menganggap hidup adalah suatu tugas, tunaikanlah.
Bila anda menganggap hidup adalah beban, pikullah. Bila
anda menganggap hidup adalah harta karun yang tak terhingga,
berbagilah. Kerjakan yang terbaik dari diri anda. Tujuan
hidup akan anda temukan di saat anda menjalani perjalanan
anda. Dan yang terpenting, anda tak kan menemukan apa-apa
bila diam tak melakukan sesuatupun.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Rabu, 03 November 2010
sahabat
Periksalah kembali persahabatan yang pernah anda rajut.
Apakah masih terbentang di sana? Atau anda telah melupakannya
jauh sebelum ini. Bekerja keras dan meniti jalan karier
bukan berarti memisahkan anda dari persahabatan. Beberapa
orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi;
selalu mengerjakan apa pun sendiri. Memang pohon yang
menjulang tinggi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh
bersemak-semak. Demikiankah hidup yang ingin anda jalani?
Bukan. Jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang
semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidup anda.
Binalah persahabatan. Anda akan merasakan betapa kayanya
hidup anda. Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi
kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh
kebahagiaan.
Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam
tubuh yang berbeda. Dan sahabat anda yang terdekat adalah
keluarga anda. Barangkali, itulah mengapa bersahabat
meringankan beban anda, karena di dalam persahabatan tidak
ada perhitungan. Di sana anda belajar menghindari hal-hal
yang tidak anda setujui, dan senantiasa mencari hal-hal
yang anda sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah
kekuatan.
Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman,
mati pun sendiri.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Apakah masih terbentang di sana? Atau anda telah melupakannya
jauh sebelum ini. Bekerja keras dan meniti jalan karier
bukan berarti memisahkan anda dari persahabatan. Beberapa
orang mengatakan bahwa menjadi pemimpin itu berteman sepi;
selalu mengerjakan apa pun sendiri. Memang pohon yang
menjulang tinggi berdiri sendiri. Perdu yang rendah tumbuh
bersemak-semak. Demikiankah hidup yang ingin anda jalani?
Bukan. Jangan kacaukan karier dengan kehidupan yang
semestinya. Persahabatan merupakan bagian dari hidup anda.
Binalah persahabatan. Anda akan merasakan betapa kayanya
hidup anda. Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi
kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh
kebahagiaan.
Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam
tubuh yang berbeda. Dan sahabat anda yang terdekat adalah
keluarga anda. Barangkali, itulah mengapa bersahabat
meringankan beban anda, karena di dalam persahabatan tidak
ada perhitungan. Di sana anda belajar menghindari hal-hal
yang tidak anda setujui, dan senantiasa mencari hal-hal
yang anda sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah
kekuatan.
Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman,
mati pun sendiri.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
jeritan akhir
Perlahan tubuhku ditutup tanah
perlahan semua pergi meninggalkanku
masih terdengar jelas langkah terakhir mereka
aku sendiri di tempat gelap yang tak pernah terbayang
sendiri menunggu keputusan
Ayah dan ibu pergi
Kakak dan adik pergi
Sahabatku pun pergi
Keluargaku menangis sangat pedih
aku pun demikian
sahabatku menghibur mereka
kerabatku berkirim bunga dan ucapan
tetapi aku tetap sendiri sendiri sendiri disini
menunggu sebuah perhitungan
Menyesal sudah tak mungkin
Tobat tak lagi dianggap
dan maaf pun tak akan didengar
aku sendiri
Tuhan..
jika kau beri aku satu kesempatan lagi
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu
beberapa hari saja
Aku pasti akan berkeliling untuk bersilaturahim dan memohon maaf pada mereka
mereka yang selama ini telah merasakan zalimku
mereka yang selama ini sengsara karena aku
mereka yang tertindas dalam kuasaku
mereka yang selama ini telah aku sakiti hatinya
mereka yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus mengembalikan semua harta kotor ini
harta yang kukumpulkan dengan wajah gembira
harta yang kukuras dari sumber yang tak jelas
harta yang kumakan bahkan yang sudah kutelan
Aku harus menuntaskan semua hutang dan janji palsu yg dulu terucap
Dan Tuhan..
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta
kini aku teringat akan semua kata kata kasar yg menyakiti hati mereka
maafkan aku ayah dan ibu
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang kalian padaku
beri juga aku waktu..
waktu untuk berkumpul dengan keluargaku
waktu untuk sungguh-sungguh beramal saleh
sungguh aku ingin bersujud dihadap-Mu
begitu sesal diri ini
karena hari telah berlalu tanpa makna
semua penuh dengan ketololan
kesenangan yang dulu kunikmati
kini tak ada artinya lagi
mengapa kunistakan hidup yang singkat itu
andai waktu dapat berputar kembali
Aku dimakamkan hari ini
dan semua menjadi tak termaafkan
dan semua menjadi terlambat
dan aku harus sendiri
untuk waktu yang tak terbayangkan
Gelap, sempit, pengap dan sendiri
Ku mohon.. temani aku !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
perlahan semua pergi meninggalkanku
masih terdengar jelas langkah terakhir mereka
aku sendiri di tempat gelap yang tak pernah terbayang
sendiri menunggu keputusan
Ayah dan ibu pergi
Kakak dan adik pergi
Sahabatku pun pergi
Keluargaku menangis sangat pedih
aku pun demikian
sahabatku menghibur mereka
kerabatku berkirim bunga dan ucapan
tetapi aku tetap sendiri sendiri sendiri disini
menunggu sebuah perhitungan
Menyesal sudah tak mungkin
Tobat tak lagi dianggap
dan maaf pun tak akan didengar
aku sendiri
Tuhan..
jika kau beri aku satu kesempatan lagi
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu
beberapa hari saja
Aku pasti akan berkeliling untuk bersilaturahim dan memohon maaf pada mereka
mereka yang selama ini telah merasakan zalimku
mereka yang selama ini sengsara karena aku
mereka yang tertindas dalam kuasaku
mereka yang selama ini telah aku sakiti hatinya
mereka yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus mengembalikan semua harta kotor ini
harta yang kukumpulkan dengan wajah gembira
harta yang kukuras dari sumber yang tak jelas
harta yang kumakan bahkan yang sudah kutelan
Aku harus menuntaskan semua hutang dan janji palsu yg dulu terucap
Dan Tuhan..
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta
kini aku teringat akan semua kata kata kasar yg menyakiti hati mereka
maafkan aku ayah dan ibu
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang kalian padaku
beri juga aku waktu..
waktu untuk berkumpul dengan keluargaku
waktu untuk sungguh-sungguh beramal saleh
sungguh aku ingin bersujud dihadap-Mu
begitu sesal diri ini
karena hari telah berlalu tanpa makna
semua penuh dengan ketololan
kesenangan yang dulu kunikmati
kini tak ada artinya lagi
mengapa kunistakan hidup yang singkat itu
andai waktu dapat berputar kembali
Aku dimakamkan hari ini
dan semua menjadi tak termaafkan
dan semua menjadi terlambat
dan aku harus sendiri
untuk waktu yang tak terbayangkan
Gelap, sempit, pengap dan sendiri
Ku mohon.. temani aku !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
ibu
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu
Sebagai balasannya kau kunci pintu kamarmu
Saat kau berumur 16 tahun dia ajari kau mengemudi mobilnya
Sebagai balasannya kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa peduli akan kepentingannya
Saat kau berumur 17 tahun dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya kau berpesta dengan temanmu hingga pagi
Saat kau berumur 19 tahun dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama
Sebagai balasannya kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu
Saat kau berumur 20 tahun dia bertanya, "Dari mana saja
seharian ini?"
Sebagai balasannya kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, pengen tahu aja urusan orang"
Saat kau berumur 21 tahun dia menyarankan satu pekerjaan
yang bagus untuk karirmu di masa depan
Sebagai balasannya kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun dia memelukmu dengan haru saat
kau lulus perguruan tinggi
Sebagai balasannya kau tanya dia kapan kau bisa berlibur ke Bali
Saat kau berumur 23 tahun dia membelikanmu 1 set furniture
untuk rumah barumu
Sebagai balasannya kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu
Saat kau berumur 24 tahun dia bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya kau mengeluh,"kok pake nanya kaya gitu sih?"
Saat kau berumur 25 tahun dia mambantumu membiayai penikahanmu
Sebagai balasannya kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km
Saat kau berumur 30 tahun dia memberikan beberapa nasehat
bagaimana merawat bayimu
Sebagai balasannya kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun dia menelepon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah seorang kerabat
Sebagai balasannya kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu
Sebagai balasannya kau beri ia artikel tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari dia meninggal dengan tenang
Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan karena
mereka datang menghantam hatimu bagaikan sebuah palu godam.
JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA BERILAH KASIH SAYANGMU
LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU
SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS
TANPA SYARAT KEPADAMU
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Sebagai balasannya kau kunci pintu kamarmu
Saat kau berumur 16 tahun dia ajari kau mengemudi mobilnya
Sebagai balasannya kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan
tanpa peduli akan kepentingannya
Saat kau berumur 17 tahun dia sedang menunggu telepon yang penting
Sebagai balasannya kau pakai telepon nonstop semalaman
Saat kau berumur 18 tahun dia menangis terharu ketika kau lulus SMA
Sebagai balasannya kau berpesta dengan temanmu hingga pagi
Saat kau berumur 19 tahun dia membayar biaya kuliahmu dan
mengantarmu ke kampus pada hari pertama
Sebagai balasannya kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu
Saat kau berumur 20 tahun dia bertanya, "Dari mana saja
seharian ini?"
Sebagai balasannya kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, pengen tahu aja urusan orang"
Saat kau berumur 21 tahun dia menyarankan satu pekerjaan
yang bagus untuk karirmu di masa depan
Sebagai balasannya kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun dia memelukmu dengan haru saat
kau lulus perguruan tinggi
Sebagai balasannya kau tanya dia kapan kau bisa berlibur ke Bali
Saat kau berumur 23 tahun dia membelikanmu 1 set furniture
untuk rumah barumu
Sebagai balasannya kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu
Saat kau berumur 24 tahun dia bertemu dengan tunanganmu dan
bertanya tentang rencananya di masa depan
Sebagai balasannya kau mengeluh,"kok pake nanya kaya gitu sih?"
Saat kau berumur 25 tahun dia mambantumu membiayai penikahanmu
Sebagai balasannya kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km
Saat kau berumur 30 tahun dia memberikan beberapa nasehat
bagaimana merawat bayimu
Sebagai balasannya kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun dia menelepon untuk memberitahukan
pesta ulang tahun salah seorang kerabat
Sebagai balasannya kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu
Sebagai balasannya kau beri ia artikel tentang pengaruh negatif orang tua
yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari dia meninggal dengan tenang
Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan karena
mereka datang menghantam hatimu bagaikan sebuah palu godam.
JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA BERILAH KASIH SAYANGMU
LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU
SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS
TANPA SYARAT KEPADAMU
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
sombong = hancur
Coba bayangkan, seandainya kita mengendarai kendaraan bermotor, entah itu mobil, sepeda motor, atau bahkan bajaj sekalipun, tanpa menggunakan kaca spion, apa yang kita rasakan? Kita tidak tahu kapan kendaraan yang ada di belakang kita itu akan mendahului. Sialnya, kita juga tidak tahu siapa dan bagaimana cara mereka mendahului. Sebab, kita hanya memfokuskan diri pada kendaraan yang ada di depan atau samping kita.
Begitulah gambaran persaingan pasar yang riil kita hadapi. Lihatlah, hampir semua industri tumbuh pesat belakangan ini. Industri telepon seluler (ponsel), misalnya, bak jamur di musim hujan, yang jamur itu kemudian dipupuk: tumbuh subur dan muncul di mana-mana. Saat ini, seperti kita tahu, ponsel merek lokal saja jumlahnya sudah mencapai puluhan. Sungguh luar biasa!
Sayangnya, layaknya sebuah lomba maraton, begitu tanda dibunyikan ribuan orang turut serta. Sesampainya di pertengahan, peserta itu banyak yang berguguran. Dan di saat seperti itu, kita hanya berkonsentrasi pada pelari yang ada di samping atau terdekat kita. Padahal, tanpa kita sadari, kadangkala ada pelari di belakang sana secara diam-diam bisa menyalip kita.
Di ranah pemasaran, merek-merek yang cuma melihat ancaman di sampingnya, mengabaikan market nicher atau new comer, tidak berpikir kompetisi jangka panjang, itulah yang disebut brand myopia alias rabun jauh merek. Ini yang membuat brand pioneer terhentak ketika menyadari bahwa dirinya telah lengah selama ini. Ini merupakan “dosa” pionir yang sangat mungkin terjadi.
Di Amerika, kita bisa melihat Ford Motor Co. dengan bodohnya membiarkan General Motors melenggang masuk dan mencaplok pasar yang dikuasainya ketika itu. Di negeri yang sama, cerita menarik juga dibuat oleh Goodyear, Firestone, dan BF Goodrich. Pada saat itu, ketiga merek tersebut mendominasi atas bahan baku, manufaktur, dan distribusi. Goodyear nomor wahid, diikuti Firestone dan BF Goodrich.
Apa yang terjadi? Ternyata, ada serangan yang mengejutkan. Firestone terlalu berkonsentrasi kepada Goodyear tanpa melihat gerakan Michelin, pabrik ban dari Perancis, yang amat ambisius ingin menembus pasar Amerika. Ia juga melupakan Sears, jaringan ritel khusus ban, aki, dan aksesori kendaraan, yang mengendalikan 25% pasar ban. Secara diam-diam, Sears menyetujui tawaran Michelin untuk membuat ban radial.
Sebelumnya, Michelin tidak memiliki pasar di Amerika dan, sebaliknya, Sears tidak mempunyai pasar di Eropa. Kemudian keduanya memutuskan untuk “menikah”. Pernikahan mereka itu akhirnya menjadi kekuatan besar dan mampu menghancurkan pasar ban yang dirajai Goodyear, Firestone, dan BF Goodrich. Ban radial tiba-tiba menjadi populer, merek asli Negeri Paman Sam tertinggal di belakang.
Di Indonesia, kita bisa melihat Merpati Nusantara Airlines yang sekarang terpaksa menyingkir ke kawasan timur Indonesia. Lima belas tahun lalu, Garuda Indonesia dan Merpati, terlepas keduanya adalah maskapai plat merah, namun mereka begitu mendominasi pasar transportasi udara. Kala itu, memori konsumen menyebutkan Garuda Indonesia yang pertama dan Merpati yang kedua. Jika tidak naik Garuda berarti memilih Merpati. Itu saja.
Tetapi, cerita tersebut menjadi lain ketika Lion Air hadir sebagai pelopor low cost carrier. Pasar penerbangan kemudian menjadi benar-benar terbuka dan mempunyai banyak pilihan: full service atau low cost carrier. Dan, sejak saat itu, selain harus menyingkir ke kawasan timur Indonesia, Merpati juga terdepak dari posisi nomor dua. Di sisi lain, Lion Air kini beradu cepat dengan Garuda Indonesia dalam memperbanyak armadanya guna memenuhi kebutuhan pasar.
Mari kita tengok juga tarik-menarik di pasar sepeda motor. Sepuluh tahun yang lalu, pasar sepeda motor nasional didominasi oleh Honda diikuti Suzuki dan Yamaha. Namun, rupanya Yamaha mampu berlari kencang hingga menyalip Suzuki dan mengambil alih posisinya menjadi nomor dua. Bahkan, Yamaha berhasil mengalahkan penguasa Honda beberapa bulan di tahun 2007. Pada Desember 2008, tampuk kepemimpinan pasar sepeda motor pun kembali dirasakan Yamaha.
Jelas sekali bahwa ini berkat keberhasilan Yamaha dalam mengedukasi pasar sepeda motor. Edukasi terhadap penyuka model sporty dan skuter otomatik (skutik) untuk kaum wanita. Di kelas skutik, Yamaha mencatatkan diri sebagai pemimpin pasar (market leader) sejati. Data terakhir, sepanjang tahun 2008, Yamaha berhasil menjual 867.398 unit skutik (merek Mio dan Mio Soul), sedangkan Honda 530.633 unit (merek Vario dan Beat). Padahal, Yamaha bukan yang pertama, tapi ia yang mengedukasi pasar. Pionirnya, Kymco, justru hanya memperoleh 4.396 konsumen saja.
Nah, mencermati fakta-fakta tadi, sudah jelas bahwa kita tidak boleh main-main dan memandang sebelah mata siapapun. Untuk itu, kita harus memahami beberapa hal terkait brand myopia ini. Pertama, hal yang paling sering kita lupakan adalah membiarkan market nicher atau pemain ceruk hidup harmonis dengan kita. Sementara, kita terlalu berorientasi kepada pemain besar dan tidak menganggap pemain ceruk itu sebagai ancaman.
Kedua, kita tidak menyadari bahwa pemasok (supplier) dapat berubah menjadi pesaing kita atau pindah ke “lain hati”. Sebab, sudah seharusnya kerja samanya win-win. Tetapi, seringkali kita menekan pemasok secara berlebihan sehingga menjadi win-lose relationship. Lalu, pemasok setia kita bisa direbut oleh pesaing non-tradisional.
Ketiga, kita sering menganggap remeh pendatang baru, terutama yang berasal dari negara berkembang atau negara yang dianggap low tech country. Misalnya, dulu banyak elektronik merek Jepang yang menganggap China bukan pesaingnya. Mereka hanya menganggap merek-merek Korea sebagai kompetitornya, sehingga merek Korea lebih diwaspadai daripada merek China. Sama seperti pemain otomotif Amerika yang dahulu lebih merendahkan merek Jepang dan Korea. Seiring berjalannya waktu, merek asal kedua negara itu berhasil memorakporandakan pasar setempat.
Oleh karena itu, sebagai pemasar hebat, kita harus terus membuka mata lebar-lebar dan sigap meneropong persaingan secara keseluruhan. Kita mesti menyadari, apabila posisi merek kita tiba-tiba merosot, maka kita perlu memperluas definisi dari persaingan itu sendiri. Kita wajib memeriksa semua perbatasan wilayah merek kita dan mengetahui di mana titik lemahnya. Bila perlu, kita perluas lingkup pasar seraya melakukan konsolidasi demi menekan ekses kapasitas secara berkesinambungan.
Jadi, ingatlah bahwa memperbaiki penglihatan kita merupakan solusi awal untuk mencegah terjadinya brand myopia. Pemahaman menyeluruh atas peta persaingan yang melibatkan merek Anda menjadi obat manjur untuk mengatasi persoalan ini. Pakailah spion untuk melihat siapa di belakang kita, kenali, dan hadang mereka agar tidak mendahului Anda, entah itu di tikungan atau di jalan lurus sekalipun. Lakukanlah tanpa lelah. Dan insyaAllah konsep ini pun bisa diterapkan dalam konteks lain, karena seperti kata pepatah "sombong adalah awal kehancuran"
semoga bermanfaat !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Begitulah gambaran persaingan pasar yang riil kita hadapi. Lihatlah, hampir semua industri tumbuh pesat belakangan ini. Industri telepon seluler (ponsel), misalnya, bak jamur di musim hujan, yang jamur itu kemudian dipupuk: tumbuh subur dan muncul di mana-mana. Saat ini, seperti kita tahu, ponsel merek lokal saja jumlahnya sudah mencapai puluhan. Sungguh luar biasa!
Sayangnya, layaknya sebuah lomba maraton, begitu tanda dibunyikan ribuan orang turut serta. Sesampainya di pertengahan, peserta itu banyak yang berguguran. Dan di saat seperti itu, kita hanya berkonsentrasi pada pelari yang ada di samping atau terdekat kita. Padahal, tanpa kita sadari, kadangkala ada pelari di belakang sana secara diam-diam bisa menyalip kita.
Di ranah pemasaran, merek-merek yang cuma melihat ancaman di sampingnya, mengabaikan market nicher atau new comer, tidak berpikir kompetisi jangka panjang, itulah yang disebut brand myopia alias rabun jauh merek. Ini yang membuat brand pioneer terhentak ketika menyadari bahwa dirinya telah lengah selama ini. Ini merupakan “dosa” pionir yang sangat mungkin terjadi.
Di Amerika, kita bisa melihat Ford Motor Co. dengan bodohnya membiarkan General Motors melenggang masuk dan mencaplok pasar yang dikuasainya ketika itu. Di negeri yang sama, cerita menarik juga dibuat oleh Goodyear, Firestone, dan BF Goodrich. Pada saat itu, ketiga merek tersebut mendominasi atas bahan baku, manufaktur, dan distribusi. Goodyear nomor wahid, diikuti Firestone dan BF Goodrich.
Apa yang terjadi? Ternyata, ada serangan yang mengejutkan. Firestone terlalu berkonsentrasi kepada Goodyear tanpa melihat gerakan Michelin, pabrik ban dari Perancis, yang amat ambisius ingin menembus pasar Amerika. Ia juga melupakan Sears, jaringan ritel khusus ban, aki, dan aksesori kendaraan, yang mengendalikan 25% pasar ban. Secara diam-diam, Sears menyetujui tawaran Michelin untuk membuat ban radial.
Sebelumnya, Michelin tidak memiliki pasar di Amerika dan, sebaliknya, Sears tidak mempunyai pasar di Eropa. Kemudian keduanya memutuskan untuk “menikah”. Pernikahan mereka itu akhirnya menjadi kekuatan besar dan mampu menghancurkan pasar ban yang dirajai Goodyear, Firestone, dan BF Goodrich. Ban radial tiba-tiba menjadi populer, merek asli Negeri Paman Sam tertinggal di belakang.
Di Indonesia, kita bisa melihat Merpati Nusantara Airlines yang sekarang terpaksa menyingkir ke kawasan timur Indonesia. Lima belas tahun lalu, Garuda Indonesia dan Merpati, terlepas keduanya adalah maskapai plat merah, namun mereka begitu mendominasi pasar transportasi udara. Kala itu, memori konsumen menyebutkan Garuda Indonesia yang pertama dan Merpati yang kedua. Jika tidak naik Garuda berarti memilih Merpati. Itu saja.
Tetapi, cerita tersebut menjadi lain ketika Lion Air hadir sebagai pelopor low cost carrier. Pasar penerbangan kemudian menjadi benar-benar terbuka dan mempunyai banyak pilihan: full service atau low cost carrier. Dan, sejak saat itu, selain harus menyingkir ke kawasan timur Indonesia, Merpati juga terdepak dari posisi nomor dua. Di sisi lain, Lion Air kini beradu cepat dengan Garuda Indonesia dalam memperbanyak armadanya guna memenuhi kebutuhan pasar.
Mari kita tengok juga tarik-menarik di pasar sepeda motor. Sepuluh tahun yang lalu, pasar sepeda motor nasional didominasi oleh Honda diikuti Suzuki dan Yamaha. Namun, rupanya Yamaha mampu berlari kencang hingga menyalip Suzuki dan mengambil alih posisinya menjadi nomor dua. Bahkan, Yamaha berhasil mengalahkan penguasa Honda beberapa bulan di tahun 2007. Pada Desember 2008, tampuk kepemimpinan pasar sepeda motor pun kembali dirasakan Yamaha.
Jelas sekali bahwa ini berkat keberhasilan Yamaha dalam mengedukasi pasar sepeda motor. Edukasi terhadap penyuka model sporty dan skuter otomatik (skutik) untuk kaum wanita. Di kelas skutik, Yamaha mencatatkan diri sebagai pemimpin pasar (market leader) sejati. Data terakhir, sepanjang tahun 2008, Yamaha berhasil menjual 867.398 unit skutik (merek Mio dan Mio Soul), sedangkan Honda 530.633 unit (merek Vario dan Beat). Padahal, Yamaha bukan yang pertama, tapi ia yang mengedukasi pasar. Pionirnya, Kymco, justru hanya memperoleh 4.396 konsumen saja.
Nah, mencermati fakta-fakta tadi, sudah jelas bahwa kita tidak boleh main-main dan memandang sebelah mata siapapun. Untuk itu, kita harus memahami beberapa hal terkait brand myopia ini. Pertama, hal yang paling sering kita lupakan adalah membiarkan market nicher atau pemain ceruk hidup harmonis dengan kita. Sementara, kita terlalu berorientasi kepada pemain besar dan tidak menganggap pemain ceruk itu sebagai ancaman.
Kedua, kita tidak menyadari bahwa pemasok (supplier) dapat berubah menjadi pesaing kita atau pindah ke “lain hati”. Sebab, sudah seharusnya kerja samanya win-win. Tetapi, seringkali kita menekan pemasok secara berlebihan sehingga menjadi win-lose relationship. Lalu, pemasok setia kita bisa direbut oleh pesaing non-tradisional.
Ketiga, kita sering menganggap remeh pendatang baru, terutama yang berasal dari negara berkembang atau negara yang dianggap low tech country. Misalnya, dulu banyak elektronik merek Jepang yang menganggap China bukan pesaingnya. Mereka hanya menganggap merek-merek Korea sebagai kompetitornya, sehingga merek Korea lebih diwaspadai daripada merek China. Sama seperti pemain otomotif Amerika yang dahulu lebih merendahkan merek Jepang dan Korea. Seiring berjalannya waktu, merek asal kedua negara itu berhasil memorakporandakan pasar setempat.
Oleh karena itu, sebagai pemasar hebat, kita harus terus membuka mata lebar-lebar dan sigap meneropong persaingan secara keseluruhan. Kita mesti menyadari, apabila posisi merek kita tiba-tiba merosot, maka kita perlu memperluas definisi dari persaingan itu sendiri. Kita wajib memeriksa semua perbatasan wilayah merek kita dan mengetahui di mana titik lemahnya. Bila perlu, kita perluas lingkup pasar seraya melakukan konsolidasi demi menekan ekses kapasitas secara berkesinambungan.
Jadi, ingatlah bahwa memperbaiki penglihatan kita merupakan solusi awal untuk mencegah terjadinya brand myopia. Pemahaman menyeluruh atas peta persaingan yang melibatkan merek Anda menjadi obat manjur untuk mengatasi persoalan ini. Pakailah spion untuk melihat siapa di belakang kita, kenali, dan hadang mereka agar tidak mendahului Anda, entah itu di tikungan atau di jalan lurus sekalipun. Lakukanlah tanpa lelah. Dan insyaAllah konsep ini pun bisa diterapkan dalam konteks lain, karena seperti kata pepatah "sombong adalah awal kehancuran"
semoga bermanfaat !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
mari berkaca
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
cintailah orang tua kita. Sampaikan pada mereka betapa kita mencintainya dan berterimakasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
cintailah orang tua kita. Sampaikan pada mereka betapa kita mencintainya dan berterimakasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
nikmatnya diremehkan
Dalam perjalanan hidup seorang manusia, siapakah yang belum pernah
diremehkan oleh orang lain? Begitu pula sebaliknya, siapakah yang
belum pernah meremehkan orang lain? Kita semua pasti pernah
mengalami keduanya, meremehkan dan diremehkan.
Ketika kita meremehkan orang lain, ada perasaan puas dalam diri
kita. Kepuasan itu muncul karena kita bisa membuat orang lain
menderita. Kita merasa di atas angin. "Inilah aku!" "Kamu bukan apa-
apa dibandingkan aku!"
Sebaliknya, ketika kita dalam posisi diremehkan, spotan kita bisa
jengkel, marah, benci, frustasi, bahkan apabila proses diremehkan
tersebut terus berlanjut menimpa seseorang maka orang tersebut bisa
mengalami depresi.
Bagi seseorang, diremehkan bisa sangat menyakitkan bahkan membuat
seseorang bisa menderita dan tidak berdaya. objek meremehkan pun
bisa bermacam-macam, misalnya asal daerah (Wong Deso), bentuk fisik
(anak hitam kecil lagi), kemampuan intlektual (Anak Goblok), status
sosial-ekonomi (Dasar Miskin), dan sebagainya.
Lalu apa nikmatnya diremehkan? Spontan kita akan menjawab, tidak akan
pernah ada manisnya diremehkan! Dalam realitas kehidupan kita, ada
banyak peristiwa yang merupakan representasi dari sebuah proses
peremehan, sebagaimana dinarasikan dalam kasus yang akan kutuangkan ini.
misalnya seorang anak lelaki berasal dari desa, tubuhnya relatif hitam, tampangnya juga
pas-pasan. Sewaktu lulus Sekolah Dasar orang tuanya menyekolahkan anaknya di
sebuah sekolah favorit di kota. Teman-teman barunya memiliki
tampilan yang jauh lebih menawan dari dirinya. Setiap hari di sekolah,
si anak desa itu selalu diremekan. Teman-temannya sering mengatakan
"Cah ndeso gaweane mangan telo, opo iso
nggarap!" (anak desa kerjaannya makan ketela, apa bisa mengerjakan
tugas-tugas" ) ditambah lagi "Cah cilik cacingen maneh, kok bercita-
cita jadi pilot!" ("anak kecil cacingan lagi, kok bercita-cita jadi
pilot").
Diremehkan seperti itu membuat si anak tidak tahan. Oleh karena itu,
si anak minta pada orang tuanya untuk keluar dan pindah ke sekolah
yang ada di desanya saja.Tentu saja, orang tua si anak, kalang kabut
mendengar keinginan anaknya keluar dari sekolah favorit yang
menjadi idaman orang tuanya.
Menghadapi realitas seperti ini, respons orang tua pada umumnya
biasanya marah. Setelah itu, menasihati anak dengan penjelasan dari
A sampai Z, tanpa mereka bersedia memahaminya. Anak pun makin
menderita dan tertekan.
Kini, anak tersebut sudah dewasa, bergelar master dalam bidang
teknik elektro, dan hidupnya pun berkelimpahan.
Kasus yang lain digambarkan oleh pasangan Wono dan Weny. Wono baru
menikah satu tahun yang lalu dengan Weny. Mereka merasa sakit hati
kepada kakaknya. Ini terjadi akibat setiap saat sang kakak selalu
meremehkan dengan kata-kata "Ah sopir saja kok akan buat rumah,
kapan jadinya?"
Hal ini membuat Wono dan Weny prihatin. Setiap malam mereka
berdua selalu berdoa memohon kepada Tuhan atas anugerah pada
dirinya. Pasutri tersebut sangat kompak dan begitu bersemangat dalam
bekerja. Ia sekarang sudah mempunyai rumah. Mereka berdua hidup
bahagia di lereng pegunungan yang indah.
Kasus-kasus seperti ini dengan segala variasinya, bisa menimpa siapa
saja. Ketika diremehkan, secara emosional kita pasti memberikan
reaksi entah secara sadar atau tidak. Reaksi pun bisa jadi
kelihatan, bisa juga tidak. Ketika diremehkan, hati pasti terusik
meningkatkan kadar adrenalin tubuh.
Proses Refleksi
Manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengolah seluruh
peristiwa yang masuk ke dalam dirinya. Kemampuan mengolah ini pun
sangat unik dan dipenuhi oleh misteri. Oleh karena itu, kita bisa
menyaksikan orang-orang yang diremehkan terhimpit oleh keadaan dan
sangat menderita. Mereka bisa mengalami stres luar biasa. Di sisi
lain, kita juga bisa melihat banyak orang yang diremehkan oleh orang
lain, namun orang tersebut bisa mengambil energi emosi yang muncul
dalam dirinya untuk tujuan positif.
Pengolahan inilah yang disebut proses refleksi, sebuah proses olah
batin yang bila kita latih akan memberikan kemampuan tambahan dalam
diri kita. Kemampuan yang dapat dipergunakan untuk semakin mengenali
diri, lingkungan, dan beragam peristiwa yang menimpa diri kita.
Sekaligus bisa menjadi sarana untuk menemukan berbagai cara untuk bereaksi
atas segala proses diremehkan yang menimpa kita dengan cara lebih positif.
Bila direflesikan secara matang, maka diremehkan justru dapat membuat
kita makin tahan mental. Sekaligus membuka peluang untuk membuktikan
bahwa diriku bukan seperti yang dikatakan orang lain tersebut. Bila
dilihat dari perspektif spiritual diremehkan bisa ditafsirkan sebagai
cara Allah SWT membuka potensi kita.
Diremehkan tidak akan membuat hati seseorang terluka, apabila orang
tersebut tidak mengizinkan hatinya dilukai. Apabila kita bisa
memandang positif ketika kita diremehkan, maka
kita bisa mengatakan: "Silahkan Anda meremehkan saya."
Diremehkan akan memunculkan energi baru dari dalam diriku. Dengan
energi baru tersebut aku akan makin mampu menggapai cita-cita, yang
berbeda dengan label negatif yang diberikan kepada ku.
Apabila kita sudah mampu sampai pada tingkat ini, maka kita bisa
menikmati betapa manisnya diremehkan! Silahkah Anda meremehkan, aku
akan menikmati hasilnya dalam wujud prestasi-prestasi nyata sebagai
buah stigma negatif yang kau tancapkan! Bagi yang suka meremehkan orang lain, berhati-hatilah,
karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang sangat kompleks dan sulit untuk diprediksi !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
diremehkan oleh orang lain? Begitu pula sebaliknya, siapakah yang
belum pernah meremehkan orang lain? Kita semua pasti pernah
mengalami keduanya, meremehkan dan diremehkan.
Ketika kita meremehkan orang lain, ada perasaan puas dalam diri
kita. Kepuasan itu muncul karena kita bisa membuat orang lain
menderita. Kita merasa di atas angin. "Inilah aku!" "Kamu bukan apa-
apa dibandingkan aku!"
Sebaliknya, ketika kita dalam posisi diremehkan, spotan kita bisa
jengkel, marah, benci, frustasi, bahkan apabila proses diremehkan
tersebut terus berlanjut menimpa seseorang maka orang tersebut bisa
mengalami depresi.
Bagi seseorang, diremehkan bisa sangat menyakitkan bahkan membuat
seseorang bisa menderita dan tidak berdaya. objek meremehkan pun
bisa bermacam-macam, misalnya asal daerah (Wong Deso), bentuk fisik
(anak hitam kecil lagi), kemampuan intlektual (Anak Goblok), status
sosial-ekonomi (Dasar Miskin), dan sebagainya.
Lalu apa nikmatnya diremehkan? Spontan kita akan menjawab, tidak akan
pernah ada manisnya diremehkan! Dalam realitas kehidupan kita, ada
banyak peristiwa yang merupakan representasi dari sebuah proses
peremehan, sebagaimana dinarasikan dalam kasus yang akan kutuangkan ini.
misalnya seorang anak lelaki berasal dari desa, tubuhnya relatif hitam, tampangnya juga
pas-pasan. Sewaktu lulus Sekolah Dasar orang tuanya menyekolahkan anaknya di
sebuah sekolah favorit di kota. Teman-teman barunya memiliki
tampilan yang jauh lebih menawan dari dirinya. Setiap hari di sekolah,
si anak desa itu selalu diremekan. Teman-temannya sering mengatakan
"Cah ndeso gaweane mangan telo, opo iso
nggarap!" (anak desa kerjaannya makan ketela, apa bisa mengerjakan
tugas-tugas" ) ditambah lagi "Cah cilik cacingen maneh, kok bercita-
cita jadi pilot!" ("anak kecil cacingan lagi, kok bercita-cita jadi
pilot").
Diremehkan seperti itu membuat si anak tidak tahan. Oleh karena itu,
si anak minta pada orang tuanya untuk keluar dan pindah ke sekolah
yang ada di desanya saja.Tentu saja, orang tua si anak, kalang kabut
mendengar keinginan anaknya keluar dari sekolah favorit yang
menjadi idaman orang tuanya.
Menghadapi realitas seperti ini, respons orang tua pada umumnya
biasanya marah. Setelah itu, menasihati anak dengan penjelasan dari
A sampai Z, tanpa mereka bersedia memahaminya. Anak pun makin
menderita dan tertekan.
Kini, anak tersebut sudah dewasa, bergelar master dalam bidang
teknik elektro, dan hidupnya pun berkelimpahan.
Kasus yang lain digambarkan oleh pasangan Wono dan Weny. Wono baru
menikah satu tahun yang lalu dengan Weny. Mereka merasa sakit hati
kepada kakaknya. Ini terjadi akibat setiap saat sang kakak selalu
meremehkan dengan kata-kata "Ah sopir saja kok akan buat rumah,
kapan jadinya?"
Hal ini membuat Wono dan Weny prihatin. Setiap malam mereka
berdua selalu berdoa memohon kepada Tuhan atas anugerah pada
dirinya. Pasutri tersebut sangat kompak dan begitu bersemangat dalam
bekerja. Ia sekarang sudah mempunyai rumah. Mereka berdua hidup
bahagia di lereng pegunungan yang indah.
Kasus-kasus seperti ini dengan segala variasinya, bisa menimpa siapa
saja. Ketika diremehkan, secara emosional kita pasti memberikan
reaksi entah secara sadar atau tidak. Reaksi pun bisa jadi
kelihatan, bisa juga tidak. Ketika diremehkan, hati pasti terusik
meningkatkan kadar adrenalin tubuh.
Proses Refleksi
Manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengolah seluruh
peristiwa yang masuk ke dalam dirinya. Kemampuan mengolah ini pun
sangat unik dan dipenuhi oleh misteri. Oleh karena itu, kita bisa
menyaksikan orang-orang yang diremehkan terhimpit oleh keadaan dan
sangat menderita. Mereka bisa mengalami stres luar biasa. Di sisi
lain, kita juga bisa melihat banyak orang yang diremehkan oleh orang
lain, namun orang tersebut bisa mengambil energi emosi yang muncul
dalam dirinya untuk tujuan positif.
Pengolahan inilah yang disebut proses refleksi, sebuah proses olah
batin yang bila kita latih akan memberikan kemampuan tambahan dalam
diri kita. Kemampuan yang dapat dipergunakan untuk semakin mengenali
diri, lingkungan, dan beragam peristiwa yang menimpa diri kita.
Sekaligus bisa menjadi sarana untuk menemukan berbagai cara untuk bereaksi
atas segala proses diremehkan yang menimpa kita dengan cara lebih positif.
Bila direflesikan secara matang, maka diremehkan justru dapat membuat
kita makin tahan mental. Sekaligus membuka peluang untuk membuktikan
bahwa diriku bukan seperti yang dikatakan orang lain tersebut. Bila
dilihat dari perspektif spiritual diremehkan bisa ditafsirkan sebagai
cara Allah SWT membuka potensi kita.
Diremehkan tidak akan membuat hati seseorang terluka, apabila orang
tersebut tidak mengizinkan hatinya dilukai. Apabila kita bisa
memandang positif ketika kita diremehkan, maka
kita bisa mengatakan: "Silahkan Anda meremehkan saya."
Diremehkan akan memunculkan energi baru dari dalam diriku. Dengan
energi baru tersebut aku akan makin mampu menggapai cita-cita, yang
berbeda dengan label negatif yang diberikan kepada ku.
Apabila kita sudah mampu sampai pada tingkat ini, maka kita bisa
menikmati betapa manisnya diremehkan! Silahkah Anda meremehkan, aku
akan menikmati hasilnya dalam wujud prestasi-prestasi nyata sebagai
buah stigma negatif yang kau tancapkan! Bagi yang suka meremehkan orang lain, berhati-hatilah,
karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang sangat kompleks dan sulit untuk diprediksi !!!
-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-
Langganan:
Postingan (Atom)